Hmmm...
Alangkah gandem rasa hidup
Nongkrong diatas tikar Malioboro malam hari
Pesan gudheg tempe, teh jahe, rokoknya: Dor!
Join sama kamu
Kaki methingkrang ongkang-ongkang rasane jaman kang soyo lintang pukang
Aku merasa akulah seorang gelandangan
Sebab aku seorang gelandangan
Maka akulah warga negara yang paling diistimewakan
Memang cuma sedikit aja aku kebagian nikmatnya kehidupan
Tapi aku bebas nangkring dimanapun dan tidur-tiduran
Sebab semua orang yang berumah pada menutup jendela dan pintu-pintu
Maka jiwaku langsung dibungkus oleh semesta
Makin deras dan berbau busuk
Apa kabar pakdhe waringin?
Makin dingin dan tidak habis-habisnya aku dikutuk
Cuaca bangkit
Edan!
Lihat itu tulisan
Berpendar-pendar
Mata tidak bisa dengan jelas melihat huruf-huruf tulisan di spanduk berbunyi:
"Musabaqoh Tilawatil Quran antar mahasiswa" dan kemudian disebelahnya spanduk yang lain bertuliskan:
"Lomba Disco! Lomba Disco! Bergaya model Jhon Tralala........"
Aku membayangkan pinggul yang digoyang-goyang, lampu redup, buah-buah kuldi dihentak-hentakkan
Aku memandangi sel-sel gemetar, aku terbakar, aku memandang semangat dan nafsu yang berkibar-kibar
Come on my love
Come on my love
Come on love.....
Laa ilaaha illalah Muhammadarrasulullah
Laa haula walaa quwwata illaa billahil aliyul adziim
Sayup-sayup aku mendengar suara bayangan Tuhan dari tempat yang agak jauh
Bayangan suara Tuhan dan pinggul yang digoyang-goyang
Kenapa kamu gatal memandangnya sebagai wayang yang jejer berhadapan
kata orang-orang inilah lanskap yang membingungkan
Ha ha ha
Apa salahnya kitab suci dilombakan
karena kitab suci bagi kita hanya untuk dilomba-lombakan?
Dan apa salahnya pinggul digoyang-goyang kalau memang untuk jiwa kita yang menggelegak
bagai lautan tidak ada lain yang bisa memberi tawaran
Wahai
Wahai kamu bintang gemintang
Kamu telah ditipu oleh arah
Arah
Arah
Utara dan selatan hanyalah arah
tetapi utara bisa menjadi selatan dan selatan bisa menjadi utara
tergantung dimana engkau berada dan kemana engkau memandangnya
Jadi ayo
Ayolah ini bayangan suara Tuhan, dan ini pinggul yang terus digoyang-goyang!
Lirih ditelingaku terdengar suara ibu: "Pak anak kita Betty kok belum juga datang ya pakne ya?"
Bapak menjawab: "Anak kita itukan bukan Betty to Bu, namanya kan Fatimah"
"Baiklah Fatimah, tetapi malam-malam begini kok belum juga datang?"
"Ya tentu belum, dia kan jadi panitia MTQ, tapi katanya sesudah itu langsung akan terus ke Colombo Disco"
Jabang bayi, jantan betina!
Inikah yang disebut gelagat jaman yang luwes
Warna yang samar atau pelajaran bagaiman memahami inti nilai yang lebih tersembunyi?
Hari-hari berputar
Kita terserimpung menjadi engsel dalam roda mesin yang lancap
Ketika makin jelas hidup adalah pentas barong yang tidak pernah bubar-bubar
Kita terhimpit beku dalam lingkaran setan
Karena itu berdoalah semoga malaikat juga sempat bikin lingkaran-lingkaran
Ini Gereja
Ini Masjid
Ini Kuil
Ini Diamond Nite Club
Ini penari-penari bugil
Ini peradaban-peradaban yang tinggi
Ini kultur ultra modern
Ini daging kehormatan dengan dua ribu perak silakan pesan!
Tertawalah, tertawalah,t ertawalah!
Memang ini semua enak untuk dikunyah-kunyah dalam tawa
Oleng!
Alam dipak dalam kaleng, hidup hilang jiwa,
gedung-gedung dan lampu-lampu megah menegaskan sukma yang kosong dan fana
Marilah cintai dunia lebih dari segala-galanya!
Mari kita jual hidup kita untuk segumpal benda untuk sebiji status
dan sekeranjang prestise
Kita bikin sendiri berhala-berhala kita, bergabung kita dengan komputer sekaligus dengan dupa-dupa
Kenapa tidak
Kenapa tidak?
Hidup ialah perebutan, pertarungan sejumput makanan, seporsi kenikmatan dalam usus.
Hidup adalah sebidang tanah, seperangkat gedung, satu drum gengsi sosial
plus sejumlah ekstase-ekstase picisan
Jadi kenapa tidak?
Hidup adalah membangun bukit, meskipun peti mati jelas amatlah sempit
Hidup ialah mencungkil matahari
Hidup adalah merobek-langit, terlempar kita oleh kekuatan kita sendiri tanpa bisa kembali bangkit
Tapi aku hanya seorang gelandangan, aku tidak pernah dihitung kecuali sebagai seonggok kotoran.
Aku tidak dikehendaki kecuali lenyap dan mati
Beberapa orang gelandangan diusir dari kehidupan, mereka bermimpi terbang bersama burung-burung di awan.
Hidup dan mati hanya kata alam, karena itu marilah rebahkan badan bersembahyang
bersembahyang
bersembahyang
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Asyahdu alaa ilaaha illalah
Wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah
Hayya 'alas sholaah
Hayya 'alal falaah
Qodqomatis sholaah
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Laa Ilaaha illalah
/1976
____________________________________________________
Pertengahan 70-an sampai 80-an, syair "Nyanyian Gelandangan" sering dibacakan oleh Emha Ainun Nadjib di kampus-kampus, dengan iringan karawitan Teater Dinasti, antara lain digawangi oleh Novi Budianto dan Joko Kamto. Mereka berdua masih tetap setia mendukung acara-acara Emha sampai hari ini dengan Gamelan Orkestra Kiai Kanjeng. Syair ini dibacakan ulang oleh penyairnya pada acara Kenduri Cinta pada tanggal 9 November 2007 di Taman Ismail Marzuki Jakarta.